Ads

Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

Thursday, 7 January 2016

Goyang Seronok Biduan, Siapa Sih Yang Ngajari?

Fenomena goyang seronok penyanyi Dangdut lokal di panggung seolah tak bisa dihentikan. Ibarat kata, hilang satu tumbuh seribu. Yang jadi pertanyaan, siapa sih yang ngajari biduan dangdut goyang erotis dan seronok?.

Seni dan seni berekspresi kadang jadi alasan bagi mereka untuk tetap melakukan aksi goyang seronok. Padahal sangat jelas berbeda, tarian atau goyang yang didasarkan pada nilai seni dengan tarian yang 'intinya' mengumbar syahwat penyanyi. Memang masih banyak yang tidak melakukan aksi seperti itu. Namun seperti yang saya katakan di awal, fenomena goyang erotis biduan lokal di panggung seperti tak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan ketika ada berita pencekalan artis Dangdut level ibu kota di suatu daerah tertentu tidaklah membuat mereka berniat menghentikan aksinya. Jika tujuannya demi popularitas, masih banyak artis Dangdut yang tersohor dan populer bukan lantaran aksi yang tidak pantas.

Elvy Sukaesih, Evie Tamala, Rita Sugiarto, Ayu Ting Ting, Siti Badriah, Soimah, Lesti, hingga artis Dangdut pendatang baru yang terkenal lewat lagu Sakitnya Tuh Di Sini, Cita Citatapun bisa merengkuh sukses tanpa harus mengumbar auratnya di panggung dengan goyang seronok. Mereka pun tidak pernah memberi contoh buruk kepada biduan-biduan Dangdut di daerah untuk bergoyang tak pantas di atas panggung. Bahkan, sebelum muncul nama Inul, Dewi Persik dan lainnya, tak ada satupun di antara artis Dangdut senior ibu kota tersebut yang memberikan contoh goyang yang dinilai kurang pantas tersebut. Lalu siapa yang ngajari?

Apa sih ruginya menyanyi dengan gaya yang lebih santun dan lebih elok di pandang mata, tanpa harus goyang seronok, memakai gaun yang anggun?. Apakah takut kehilangan job?. Via Vallen, Lilin Herlina, biduan lokal yang tetap memakai gaun yang santun dan tidak vulgar,  tak pernah berhenti menerima job. Mereka berdua juga terkenal bukan karena goyangan seronok atau pakaian mini yang ketat dan vulgar kan?.

Goyang Seronok biduan lokal siapa yang ngajari?

Mungkin ada yang bertanya, apa sih batasan bahwa biduan itu goyang seronok atau bukan?. Secara mudahnya begini, kan banyak biduan yang sering tampil di tv lokal. Kira-kira pernah tidak, seorang biduan bergoyang atau beraksi seperti gambar di atas. Tentu tidak kan?. Lalu, mengapa ketika tampil di televisi (yang jangkauan lebih luas) mereka memakai gaun yang panjang, santun dan aurat tertutup, goyang pun tidak seerotis ketika pentas di panggung terbuka apalagi sampai ada kejadian biduan Dangdut digreyangi. Dari pihak televisi jelas melarang penyanyi berpakaian vulgar, dan penyanyi juga tidak seerotis di panggung ketika goyang, ya itu karena sebenarnya mereka sudah tahu kalau hal itu sangat tidak pantas dilakukan untuk publik.

Semoga saja artikel ini bisa menggugah kesadaran bagi biduan Dangdut lokal yang masih menggunakan cara kuno dan tak pantas jika tujuannya untuk merengkuh popularitas. Intinya, untuk meraih kesuksesan menjadi penyanyi, goyang seronok dan erotis bukanlah sebuah jawaban. Jawabannya adalah teladani kesukesan artis Dangdut senior (era 60an-awal 2000) ibu kota dan biduan lokal seperti Elvy Sukaesih, Rita Sugiarto, Ellya Khadam, Ida Laila, Ikke Nurjanah, Evie Tamala, Iis Dahlia, Mega Mustika, Ine Synthia, Camelia Malik, Via Vallen, Lilin Herlina dan lain-lain yang terkenal bukan karena goyangan erotisnya.

Thursday, 27 November 2014

Goyang Seronok Biduan, Siapa Sih Yang Ngajari?

Fenomena goyang seronok penyanyi Dangdut lokal di panggung seolah tak bisa dihentikan. Ibarat kata, hilang satu tumbuh seribu. Yang jadi pertanyaan, siapa sih yang ngajari biduan dangdut goyang erotis dan seronok?.

Seni dan seni berekspresi kadang jadi alasan bagi mereka untuk tetap melakukan aksi goyang seronok. Padahal sangat jelas berbeda, tarian atau goyang yang didasarkan pada nilai seni dengan tarian yang 'intinya' mengumbar syahwat penyanyi. Memang masih banyak yang tidak melakukan aksi seperti itu. Namun seperti yang saya katakan di awal, fenomena goyang erotis biduan lokal di panggung seperti tak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan ketika ada berita pencekalan artis Dangdut level ibu kota di suatu daerah tertentu tidaklah membuat mereka berniat menghentikan aksinya. Jika tujuannya demi popularitas, masih banyak artis Dangdut yang tersohor dan populer bukan lantaran aksi yang tidak pantas.

Elvy Sukaesih, Evie Tamala, Rita Sugiarto, Ayu Ting Ting, Siti Badriah, Soimah, Lesti, hingga artis Dangdut pendatang baru yang terkenal lewat lagu Sakitnya Tuh Di Sini, Cita Citatapun bisa merengkuh sukses tanpa harus mengumbar auratnya di panggung dengan goyang seronok. Mereka pun tidak pernah memberi contoh buruk kepada biduan-biduan Dangdut di daerah untuk bergoyang tak pantas di atas panggung. Bahkan, sebelum muncul nama Inul, Dewi Persik dan lainnya, tak ada satupun di antara artis Dangdut senior ibu kota tersebut yang memberikan contoh goyang yang dinilai kurang pantas tersebut. Lalu siapa yang ngajari?

Apa sih ruginya menyanyi dengan gaya yang lebih santun dan lebih elok di pandang mata, tanpa harus goyang seronok, memakai gaun yang anggun?. Apakah takut kehilangan job?. Via Vallen, Lilin Herlina, biduan lokal yang tetap memakai gaun yang santun dan tidak vulgar,  tak pernah berhenti menerima job. Mereka berdua juga terkenal bukan karena goyangan seronok atau pakaian mini yang ketat dan vulgar kan?.

Goyang Seronok biduan lokal siapa yang ngajari?

Mungkin ada yang bertanya, apa sih batasan bahwa biduan itu goyang seronok atau bukan?. Secara mudahnya begini, kan banyak biduan yang sering tampil di tv lokal. Kira-kira pernah tidak, seorang biduan bergoyang atau beraksi seperti gambar di atas. Tentu tidak kan?. Lalu, mengapa ketika tampil di televisi (yang jangkauan lebih luas) mereka memakai gaun yang panjang, santun dan aurat tertutup, goyang pun tidak seerotis ketika pentas di panggung terbuka apalagi sampai ada kejadian biduan Dangdut digreyangi. Dari pihak televisi jelas melarang penyanyi berpakaian vulgar, dan penyanyi juga tidak seerotis di panggung ketika goyang, ya itu karena sebenarnya mereka sudah tahu kalau hal itu sangat tidak pantas dilakukan untuk publik.

Semoga saja artikel ini bisa menggugah kesadaran bagi biduan Dangdut lokal yang masih menggunakan cara kuno dan tak pantas jika tujuannya untuk merengkuh popularitas. Intinya, untuk meraih kesuksesan menjadi penyanyi, goyang seronok dan erotis bukanlah sebuah jawaban. Jawabannya adalah teladani kesukesan artis Dangdut senior (era 60an-awal 2000) ibu kota dan biduan lokal seperti Elvy Sukaesih, Rita Sugiarto, Ellya Khadam, Ida Laila, Ikke Nurjanah, Evie Tamala, Iis Dahlia, Mega Mustika, Ine Synthia, Camelia Malik, Via Vallen, Lilin Herlina dan lain-lain yang terkenal bukan karena goyangan erotisnya.

Sunday, 24 August 2014

Seputar Artis Dangdut Pendatang Baru

Barangkali karena musik Dangdut sedang berkuasa di Indonesia, sehingga banyak bermunculan artis Dangdut pendatang baru. Ada yang memang awal karirnya sebagai penyanyi seperti Inul, Dewi Persik, Camelia Gomez, Lina Geboy, dan lain sebagainya, ada pula yang awal karirnya terjun sebagai model dan akting seperti Dian Conceicao (foto), Camel Petir, Julia Perez, Novi Amilia, Sonita, Neng Diva dan sebagainya. Sebelumnya, mereka sudah terlebih dulu sebagai selebriti yang terjun sebagai foto model, atau dunia akting, baik layar lebar ataupun televisi.

Salah satu artis Dangdut pendatang baru, Dian Conceicao
Entah apa yang ada di dalam benak mereka untuk menjadi dan beralih profesi sebagai pedangdut, padahal, penyanyi Dangdut itu identik dengan imej negatif, erotis dan goyangan seronok. Apakah mereka tidak malu atau gengsi? Apakah mereka terkesan dengan honor sebagai penghasilan tambahan, popularitas, atau hanya menjadikannya sebagai profesi sampingan saja dan ingin menambah pengalaman baru (coba-coba, siapa tahu sukses)?.

Dari ketiga alasan tersebut, yang paling masuk akal adalah popularitas. Menjadi penyanyi Dangdut bagi mereka mungkin lebih mudah untuk menaikkan popularitas dibandingkan menjadi bintang film atau foto model yang jelas hanya lebih diketahui oleh kalangan menengah ke atas (yang suka ke bioskop atau yang suka dengan koleksi majalah dewasa). Sementara untuk menjadi artis Dangdut, cukup sering tampil di televisi, membuat sensasi, gosip dan sebagainya bisa lebih mengangkat popularitasnya, terlebih musik yang dulu dianggap kampungan ini sekarang sedang berkuasa di bumi nusantara.

Julia Perez adalah salah satu contohnya. Wanita yang awal karirnya sebagai foto model ini semakin sukses dan populer setelah terjun menjadi pedangdut setelah meluncurkan album perdananya berjudul Belah Duren. Dan menjadi semakin terkenal lagi setelah beritanya (entah fakta atau settingan) sering muncul di infotainment layar kaca.

Mungkin seperti itulah apa yang ada dalam benak para pedangdut pendatang baru terutama bagi mereka yang awal karirnya (profesinya) bukan asli sebagai penyanyi yang biasa tampil dari panggung ke panggung, dari kampung sampai ke kota-kota. Tak heran jika pedangdut newbi seperti ini lebih mudah populer dibandingkan hasil dari kontes atau lomba nyanyi seperti KDI, DAcademy, Kondang In, dan sebagainya.

Ya, gosip (settingan) dan sensasi (sekalipun fakta) seperti itu adalah salah satu faktor yang membuat artis-artis Dangdut menjadi lebih mudah dikenal atau (jika beruntung) akan menjadi semakin terkenal. Bahkan ada di antara artis Dangdut pendatang baru itu yang sengaja mamerkan foto-foto kemolekan tubuhnya secara vulgar (di internet) untuk meraih popularitas tersebut. Meskipun terkadang ada beberapa berita fakta dan gosip foto-foto vulgar yang gagal untuk semakin melambungkan namanya, seperti yang pernah dibahas di posting sebelumnya.

Itulah posting saya kali ini tentang mengapa mereka memilih dan (ada yang alih profesi) untuk menjadi artis Dangdut. Semoga saja dengan begitu banyaknya pendatang baru, tidak hanya bagus dalam hal kuantitas tapi juga kualitas.

Friday, 20 September 2013

Alasan Penyanyi Dangdut Pria Kini Kurang Laku

Pentas Dan Produksi Dangdut Didominasi Penyanyi wanita
Dangdut Site - Mungkin hampir lebih dari 90 persen penyanyi Dangdut masa kini yang muncul adalah kaum hawa. Sehingga seolah-olah ketika kita mengucapkan atau berkata tentang seorang penyanyi Dangdut, maka yang ada dalam benak dan pikiran kita adalah wanita. Pertanyaannya adalah, mengapa kini pernyanyi pria kurang laku? jika dibandingkan sebelum era 2000an, khususnya untuk produksi album atau lagu baru.

Dulu kita mengenal begitu banyak penyanyi laki-laki yang begitu populer terutama bagi para dangduter sejati. Dari tahun ke tahun, pertumbuhan dan perkembangan antara vokalis pria dan wanita bisa dikatakan seimbang, terutama penyanyi di periode 60an sampai akhir atau awal 2000an. Bahkan tak hanya untuk kalangan dewasa saja, karena ada juga penyanyi dangdut pria cilik yang juga turut meramaikan musik yang paling kita cintai ini waktu itu, seperti Sona Orama dan Abiem Ngesti.


Sederetan pedangdut pria yang populer  dan tetap eksis hingga sebelum era 2000-an seperti misal Hamdan ATT yang begitu kondang dengan tembang Termiskin Di Dunianya. Mansyur S, artis seangkatan dengan sang Raja Dangdut, Rhoma Irama yang telah menelorkan banyak album, Asmin Cayder (Tembok Derita), Caca Handika (Undangan Palsu), Ona Sutera (Terbayang-bayang), Imam S Arifin (Jandaku), Muchsin Alatas (Pasrah), Asep Irama (Kembalikanlah Dia), Leo Waldi (pencipta sekaligus penyanyi), Jhonny Iskandar (Bukan Pengemis Cinta), Abiem Ngesti (Pangeran Dangdut), dan masih banyak segudang biduan pria lain.

Pasca 2000-an, hanya segelintir saja, seperti Alam (Mbah Dukun), Nadi Barakah (Duet Malam Terakhir), Endang Kurnia (Duit), Ridho Rhoma itupun sampai sekarang tidak begitu eksis (maksimal satu album, setelah itu tenggelam). Berkurangnya pedangdut pria sebenarnya sudah dilakukan pembenahannya seperti digelarnya kontes dangdut di layar kaca. Namun ternyata tidak mampu mengembalikan kejayaan munculnya pedangdut laki-laki sebelum tahun 2000an atau akhir 90an.

Salah satu faktornya mungkin karena ketika di awal tahun 2000 tersebut begitu banyak tersebar vcd bajakan yang dijual separo harga dibarengi dengan beralihnya perhatian masyarakat sejak tumbuhnya benih-benih Dangdut Koplo. Hal itulah yang mungkin menyebabkan mengapa kini penyanyi pria kurang laku dan lebih banyak didominasi oleh kaum hawa, terutama di pentas musik Dangdut nasional (selebritas).

Monday, 16 September 2013

Unsur Eksternal Dalam Musik Dangdut

Fans Termasuk unsur eksternal seperti Sera Mania, Monata Mania, Sonata Mania, Sagita fans, Pallapa fans
Ada unsur internal dalam musik dangdut, sudah pasti ada unsur eksternalnya, bukan begitu para pengunjung blog Dangdut Site??. Meskipun bersifat eksternal, namun juga penting bagi musik ini secara umum. Unsur eksternal dalam musik Dangdut seperti, penggemar (termasuk dalam hal ini penonton atau pendengar), pemerintah, publisher, studio rekaman, dan organisasi yang menjadi wadah bagi semua seniman Dangdut.

Penggemar merupakan salah satu faktor penting bagi keeksisan sesuatu, baik itu film, aktor, aktris, termasuk juga Dangdut. Dengan semakin banyaknya penggemar yang berkembang atau bertambah dari tahun ke tahun, maka dijamin akan bertambah eksis aliran ini. Begitu sebaliknya, semakin hilang atau berkurangnya penggemar maka lambat laun akan tenggelam dengan sendirinya. Meski demikian fans hanya merupakan unsur eksternal yang tidak mengikat. Artinya, ciri khas Dangdut tidak ditentukan oleh unsur ini.
Saat ini sudah banyak dijumpai penggemar Dangdut di Indonesia yang terorganisir, baik terhadap penyanyi ataupun terhadap grupnya. Misalnya Soneta Mania, Fans Rhoma Irama, SERA mania, Fans Via Vallen, Monata Fans Club, Moneta Fans Club, Sagita, Sonata, Pallapa dll.
Pemerintah juga menjadi unsur yang penting dalam hal ini, karena dengan adanya pemerintah maka seharusnya sebuah budaya bangsa akan lebih diperhatikan, dan diperkenalkan kepada dunia melalui staf kedutaan yang ada di berbagai negara. Sehingga dengan dikenalnya Dangdut sebagai budaya bangsa Indonesia, akan terhindar klain dari negara lain. Selain itu pemerintah juga seharusnya menjadi lembaga nomor satu yang membantu bertahan dan berkembangnya musik ini, baik dari segi moril atau materiil. Sebagai misal peran pemerintah dalam hal ini misalnya pada masa pemerintahan presiden Soekarno, yang digunakan sebagai penyeimbang atau bentuk penolakan berkembangnya dunia sinema dan politik anti-barat yang mulai masuk ke Indonesia.

Adanya televisi, radio dan sekarang media internet, menjadikan semuanya akan lebih mudah disampaikan kepada masyarakat terutama hal yang berkaitan dengan Dangdut. Entah itu pemberitaan tentang lagu, penyanyi, musisi atau penggemar. Dengan adanya publikasi ini juga membantu kelestarian sebuah musik ini.

Dulu TVRI adalah televisi yang paling berjasa dalam mempopulerkan Dangdut, terutama melalui program unggulan seperti Album Kita atau Album Minggu Ini, Kamera Ria dll. Saat ini hampir semua televisi meliput segala yang berhubungan dengan Dangdut
Studio rekaman atau recording juga berperan penting bagi kualitas sebuah lagu Dangdut secara umum (baik itu vokalis, nada lagu atau aransemen musik itu sendiri).
Studio yang berjasa dalam mengembangkan Dangdut seperti Akurama Records, Gajah Mada Record, Yukawi dan sebagainya
Organisasi juga berperan penting bagi musik Dangdut. Dengan adanya organisasi yang tentunya mendapat legalisasi dari pemerintah, maka akan lebih terlindungi dari unsur-unsur liar yang bisa mengganggu keberadaan Dangdut. Selain itu, dengan adanya organisasi juga dapat membuktikan bahwa musik Dangdut bukanlah musik liar yang tidak terkelola secara sah dan bertanggung jawab.
Organisasi resmi bagi wadah semua insan Dangdut Indonesia adalah PAMMI (persatuan artis musik melayu Dangdut Indonesia) yang saat ini masih diketuai oleh sang Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama.

Kesimpulan: Meskipun penting, tapi unsur ini tidaklah bersifat mengikat, artinya bahwa Dangdut sebagai sebuah aliran musik baru tidaklah ditentukan oleh unsur ini. Jadi tanpa unsur inipun tidak akan menghilangkan apa yang menjadi ciri khas pokok musik rakyat ini.

Sunday, 15 September 2013

Unsur Internal Dalam Musik Dangdut

Suling, gendang dan tamborin unsur internal dalam dangdut
Dangdut sebagai sebuah genre musik sudah tentu memiliki unsur dan elemen yang penting di dalamnya sebagaimana unsur yang ada dalam kategori atau jenis musik lain. Dalam hal ini, unsur internal dalam musik Dangdut tersebut terbagi lagi dalam dua kategori, yaitu subyek dan obyek. Kategori subyek adalah para pelaku musik seperti, musisi, pencipta lagu, dan aranger, dan penyanyi/vokalis sedangkan kategori obyek meliputi alat musik atau instrumen, lagu dan syair.

A. Kategori Obyek

1. Lagu
Apa dan bagaimana pengertian dari lagu, silakan anda cari di google atau mesin telusur lainnya
2. Syair
Syair merupakan bagian dari sebuah lagu yang tertulis dan terucap melalui serangkaian kata yang memiliki maksud tertentu dan memiliki sebuah judul. Syair belum menjadi sebuah lagu kalau belum terdapat nada atau irama. Artinya, sebuah syair akan menjadi sebuah bahasa yang terucap atau tertulis saja sama seperti tulisan pada sebuah puisi atau sajak.
3. Alat Musik atau instrumen
Instrumen atau alat musik pokok dalam irama Dangdut terbagi menjadi dua:
1. Alat musik pokok/dasar yang menjadi ciri khas
  • Gendang/Kendang
  • Seruling/Suling
  • Gitar
  • Bass/ Sebelum ada bass, memakai gong.
2. Alat musik pelengkap tambahan
  • Piano/keyboard/organ
  • Biola
  • Saxophone
  • Terompet
  • Sitar
  • Drum
  • Mandolin
  • dll
B. Kategori Subyek atau pelaku

Aranger juga merupakan unsur yang penting dalam sebuah musik termasuk Dangdut. Tanpa adanya aranger, maka tidak akan tercipta sebuah musik yang tersusun secara rapi baik yang bersifat pribadi (aranger pribadi dalam penggarapan lagu baru) atau yang bersifat kolektif, digarap secara bersama-sama yang dipandu oleh seorang leader. Di dunia Dangdut banyak sekali aranger profesional yang sukses, seperti Aliek Ababiel (Contoh lagu, Selamat Malam, Suara Hati, Trauma dll), Harry B (Satu Malam koleksi lagu Itje Trisnawati dll), Hendro Saky (Gula-Gula, Mahal, dll)

Pencipta lagu berperan sekali dalam menciptakan lagu, dimana di dalamnya terdapat syair, lirik lagu dan nada dalam lagu tersebut. Dalam hal ini model atau warna musiknya belum terbentuk, karena memang untuk menciptakan sebuah lagu tidak terlalu membutuhkan alat musik atau juga aranger. Ketika sebuah lagu sudah jadi, untuk membentuk warna irama Dangdut, maka dibutuhkanlah aranger dan tentunya alat musik itu sendiri. Contoh pencipta lagu Dangdut yang sukses seperti Rhoma Irama, Leo Waldy, Yus Yunus, Asmin Cayder dll

Vokalis atau penyanyi juga merupakan unsur yang penting bagi genre ini. Hal ini juga membuktikan bahwa musik Dangdut bukanlah musik instrumentalia, akan tetapi sangat dibutuhkan seorang penyanyi dari sebuah lagu, hal ini merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan dari sebuah lagu yang disuguhkan kepada pendengar dan penonton. Akan tetapi perlu diketahui, bahwa penyanyi sebenarnya bukan merupakan bagian dari ciri khas pokok genre ini. Artinya, tanpa penyanyipun, musik Dangdut tidak akan kehilangan ciri khasnya.

Dan yang terakhir adalah musisi atau grup Dangdut. Grup atau kelompok dalam musik dangdut lebih dikenal sebagai sebuah Orkes Melayu yang disingkat OM, adalah kumpulan pemusik yang memiliki peran sendiri dalam memainkan alat musik yang terbentuk secara harmonis. Hingga saat ini mungkin sudah terbentuk ribuan grup di seluruh Indonesia sejak lahirnya musik rakyat ini. Beberapa grup yang terkenal baik di kalangan masyarakat umum atau penggemar seperti Soneta Group pimpinan Rhoma Irama, Tarantulla Pimpinan reynold Panggabean, Moneta Pimpinan Imron Sadewo, Family, Big Dut, Kharisma, OM. Sera, OM. Monata, Sagita, Sonata, New Pallapa dan lain sebagainya.

Itulah beberapa unsur internal yang kami ulas dan analisis sendiri di blog Dangdut Site ini. Harapan kami semoga dapat menambah wawasan musikalitas kita terutama genre yang begitu kita cintai sebagai wujud turut melestarikan budaya bangsa.